Menyelam dan Merasakan Rintik Novel Hujan Bulan Juni
Siapa yang tidak mengenal puisi yang berjudul Hujan
Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. Puisi yang begitu termashyur. Menjadi
salah satu puisi yang paling dikenang di dalam dunia sastra Indonesia. Puisi
yang ditulis pada tahun 1989 ini menjelma menjadi sebuah karya berupa novel
sastra dengan judul yang sama yang terbit pada tahun 2015. Novel yang sukses
menjadi salah satu novel paling laku atau best
seller dan sudah mencapai 20 kali lebih cetak.
Novel
Hujan Bulan Juni berkisah mengenai seorang dosen muda yang bernama Sarwono yang jatuh cinta dengan
adik dari sahabatnya sendiri, Toar, yang bernama Pingkan. Pingkan adalah gadis
blasteran antara Jawa dan Minahasa yang juga seorang dosen sastra Jepang di
Universitas Indonesia. Kisah cinta Sarwono dan Pingkan adalah kisah cinta yang
tak sederhana. Kisah cinta mereka
terhalang akan berbagai perbedaan, baik itu agama, budaya, suku, perseteruan
antar keluarga, dan hubungan jarak jauh.
Ketika kita membaca novel ini, kita akan menilai begitu piawainya sang penulis, Sapardi, dalam meramu sebuah cerita yang sebenarnya rumit, namun dapat dinikmati dengan penuh kesederhanaan. Kesederhanaan dapat terpancar di dalam jalan ceritanya yang terkesan tidak muluk-muluk. Dengan pemilihan kata-katanya yang indah, juga menambah kesan ambiguitas konotatif.
Di dalam novel ini, Sapardi lagi-lagi dengan begitu ciamiknya memasukkan unsur tiga budaya, yakni Jawa, Minahasa, dan Jepang. Dan itu tergambar di dalam jalan cerita novelnya. Misalnya dalam kutipan di halaman 32, “Namun laki-laki Menado yang sejak pertama kali bertemu diam-diam mengagumi kecantikannya itu menganggap bahwa diam, bagi orang Jawa, berarti ‘ya’ atau ‘mau’—pokoknya jawaban positif.”
Novel ini adalah trilogi. Dengan setiap buku memiliki ciri dan karakter yang berbeda-beda. Itulah kehebatan dari sang penulis. Sang penulis pun pernah berkata, bahwa ia tidak membuat suatu karya yag sama dengan karya yang pernah ia buat. Maka dari itu, apabila kita baca setiap novel dari trilogi Hujan Bulan Juni ini, akan terasa sangat berbeda. Novel pertama dari trilogi Hujan Bulan Juni ini hadir dengan judul yang sama, yang lebih menonjolkan tokoh si Sarwono. Novel yang kedua, dengan judul Pingkan Melipat Jarak, lebih menonjolkan tokoh si Pingkan. Sedangkan di novel yang ketiga, dengan judul Yang Fana Adalah Waktu, tokoh yang lebih menonjol adalah Katsuo.
Namun, sebenarnya, novel ini akansulit dimengerti bagi mereka—pembaca—yang tidak biasa membaca novel-novel yang berbau sastra. Seperti yang terpapar jelas di atas, bahwasannya novel ini menggunakan kata-kata atau metafor-metafor yang terkesan ambiguitas dan konotatif. Dan juga terkesan tidak lugas. Menjadi sebuah kekurangan tersendiri dari novel ini. Mereka yang membaca novel ini perlu membacanya berulang-ulang untuk lebih mengerti dan memahami isi serta makna yang terkandung secara eksplisit di dalamnya. Tak pelak jika ketika kita membaca novel ini, sama halnya dengan membaca buku-buku non fiksi yang menguras pikiran dan tenaga—walaupun tidak seberlebihan itu sebenarnya.
Di balik itu semua, novel ini sukses membius para penikmat sastra tanah air—bahkan dunia. Apresiasi lebih perlu diberikan mengingat kontribusi serta pengaruhnya di dalam dunia sastra Indonesia. Menghadirkan sebuah karya yang menginspirasi banyak orang. Bahwa novel ini layak dianggap sebuah masterpiece karya sang legenda, Sapardi Djoko Damono.
Terima kasih
Sapardi.
Salam literasi,
salam bestari.

Komentar
Posting Komentar