Rintihan Hati Seorang Penikmat Dangdut Klasik


 

        Siapa yang tidak mengenal musik dangdut klasik? Musik hasil dari akulturasi tiga budaya utama, yaitu Meayu, India, dan Arab. Salah satu tokoh yang memopulerkan musik dangdut ini adalah Bang Haji Rhoma Irama. Saya yakin, seluruh Indonesia pasti mengenalnya dan biasanya menyebutnya sebagai The King of Dangdut. Selain beliau, ada nama-nama lain seperti Meggy Z, Mansur S, Elvy Sukaesih, Rita Sugiarto, A. Rafiq, dan masih banyak lagi.

          Dari sekian banyak nama, Rhoma Irama-lah yang paling terkenal. Apalagi dengan tembangnya yang berjudul Tabir Kepalsuan. Beh, sungguh begitu mengagumkan. Bagiku lagu ini begitu asyik dan enak untuk didengar.

      Seiring dengan perkembangannya, dangdut kini mulai bervariasi. Tidak hanya dangdut klasik seperti yang sudah disebutkan di atas, tetapi ada kultur lain atau jenis musik lain yang masuk sehingga semakin memperkaya musik dangdut ini. Sebut saja jazzdut, popdut, rockdut, dan lain sebagainya. Dan jangan dilewatkan juga, saat ini di era modern, ada dangdut koplo yang semakin menjadi primadona bagi masyarakat.

      Dari perkembangan itulah yang saat ini membenamkan dangdut klasik yang merupakan cikal bakal dari lahirnya musik dangdut kontemporer. Malahan, masyarakat saat ini jauh lebih akrab dan lebih menyukai dangdut kontemporer—koplo—ketimbang dangdut klasik itu sendiri. Apalagi kawula mudanya yang kebanyakan saat ini, lebih gemar menikmati music-musik dari luar negeri, seperti Kpop, Jpop, Americanpop, dan lain-lain.

        Padahal jika kita lihat dangdut klasik yang lahir di tahun-tahun itu—tahun 70an sampai 90an—memiliki lirik yang lebih bermakna dan merepresentasikan kondisi sosial masyarakat Indonesia. Jika ini terus dibiarkan, bisa-bisa dangdut klasik akan semakin tak terdengar lagi. Bisa saja bangsa ini akan kembali kehilangan asset pentingnya.

         Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab dangdut klasik semakin berkurang peminatnya. Pertama, adanya stigma kampungan. Kedua, permintaan pasar yang tidak bersahabat. Ketiga, tidak adanya atau jarangnya regenerasi. Dan yang terakhir adalah tidak maraknya inovasi.

         Hufft. Apalah daya. Begitulah perkembangan. Meski dangdut klasik mulai agak terbenam, namun dangdut klasik masih memberikan kehangatan tersendiri bagi para penikmatnya. Dan jangan salah, penikmatnya masih banyak walapun kebanyakan dari orang-orang yang berusia lebih tua.

           Untuk itu, agaknya kita sebagai generasi muda, sudah seharusnya lebih mencintai, melestarikan, dan mendengarkan music-musik dalam negeri utamanya musik dangdut klasik. Kalau bukan kita, siapa lagi? Mulailah pelan-pelan membiasakan diri mendengarkan musik dangdut klasik. Karena seperti lagu dari Dewa 19, beri sedikit waktu, biar cinta datang karena telah terbiasa, kepadamu. Kemudian akan tumbuh yang namanya cinta. Cinta datang karena telah terbiasa. Meski awalnya dipaksa, namun lama-lama akan terbiasa dan merekahlah apa yang biasa disebut anak-anak Bucin sebagai cinta. Dari situlah kau akan memahami dan merasakan cinta yang seutuhnya. Dan ingat! Di setiap derap kata yang tercipta, tersisipkan rindu di dalamnya. Ingat kata-kataku! Kau pasti bisa. Mulai saja dulu. Salam literasi. Salam bestari.   

Komentar

Postingan Populer