Berharap Tanpa Kepastian. Bagian 1 : Peringatan
Sudah jam 1 siang. Aku masih tetap berada di dalam kelas. Tak seperti biasanya, aku mesti menyelesaikan tugas-tugas yang belum aku selesaikan. Dan itu cukup banyak. Teman-
teman yang lain sudah pulang meninggalkanku sendiri di dalam kelas. Hanya berteman suara
empat kipas angin yang sengaja aku biarkan menyala untuk memecah keheningan. Hanya
seorang diri. Ya, seorang diri. Sesekali aku keluar kelas menuju koridor hanya untuk
memastikan apakah ada orang lain selain aku di sini. Dan Ternyata benar. Hanya ada aku di
sini. Akhirnya aku pun kembali lagi menuju mejaku—yang berada paling belakang—dan
duduk seraya berharap akan ada keajaiban yang mengantarku menyelesaikan tugas-tugas yang
memuakkan sekaligus menggairahkan ini.
Hari ini memang hari yang sangat melelahkan. Entah ada apa dengan hari Senin ini. Ingin rasanya untuk berteriak. Sekeras-kerasnya. Entah sampai jam berapa tugas-tugas ini bisa aku selesaikan. Untung saja, suasana seperti inilah yang sangat aku suka. Tak ada keramaian. Tak ada kebisingan. Hanya aku sendiri. Sendiri saja. Seorang diri. Tanpa ada yang menemani.
Ada dua tugas yang harus aku selesaikan hari ini. Diantaranya tugas PPKN dan Sejarah. Aku terpaksa menyelesaikannya karena sang pemberi tugas telah menagihnya tadi pagi. Beliau juga mewanti-wanti. “Barang siapa yang tidak menyelesaikan tugas-tugas yang telah saya berikan hari ini, bersiap-siaplah mendapatkan nilai yang buruk!” Begitu ucapnya.
“Mampus!” Kataku dalam hati. Seketika jantungku berdegup cukup cepat tatkala
mendengar kata-kata yang keluar dari mulut beliau itu. Aku pun sedikit takut dengan ancaman itu. Pasalnya aku takut nilaiku memburuk. Aku takut nilaiku tidak bisa mencapai angka nilai minimum—yang biasa disebut KKM. Karena nilai yang bagus menjadi prasyarat ketika menuju ke jenjang yang lebih tinggi. Agar lebih mudah untuk masuk karena nilai yang bagus.
Sebenarnya nilai bukanlah patokan. Nilai bukanlah segala-galanya. Namun sering saja di dalam diriku terjadi pertarungan prinsip yang cukup sengit. Antara pemikiran yang menganggap nilai adalah segala-galanya dengan pemikiran yang menganggap nilai bukanlah segala-galanya. Semua ini berawal ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Semasa itu orientasiku adalah nilai yang bagus. Aku rasa bukan hanya aku yang berpikiran seperti itu, tetapi seluruh siswa-siswi satu sekolah dasar itu—dan bahkan seluruh siswa-siswi sekolah dasar seluruh nasional.
Berusaha mendapatkan nilai yang bagus. Entah itu dengan cara yang halal ataupun dengan cara yang haram. Belajar dengan sungguh-sungguh dan memahami setiap pelajaran yang telah diberikan, serta berusaha mengerjakan sendiri dan percaya akan kemampuan sendiri, itulah cara-cara yang halal untuk meraih nilai yang bagus. Lantas bagaimana dengan cara yang haram? Ya tentu saja dengan cara menyontek ataupun dengan cara mengrepek.
“Ah, masa-masa masih polosnya.” Acap kali hatiku berkata semacam itu ketika teringat masa-masa sekolah dasar. Aku terkadang bertanya-tanya siapa yang mengajariku dan teman-teman yang lain untuk menyontek dan mengrepek? Aku pun tak tahu pasti dan tak juga menemukan jawabannya. Para guru dan orang tua sudah mengajarkan kita dengan cara-cara yang halal. Namun bagaimana cara-cara haram semacam itu bisa lahir dan membudaya? Ah
lagi-lagi dengan pertanyaan yang sulit untuk aku jawab.
Namun seiring berjalannya waktu aku bisa menjawab pertanyaan itu dengan cukup kritis—menurutku kritis dan tidak memedulikan apa kata orang lain. Mungkin semua itu terjadi karena kita sebagai siswa telah terindoktrinasi bahwa nilai adalah segala-galanya. Sehingga hal itu menjadi sebuah tradisi yang sudah sangat mengakar dan membudaya dari dulu sampai sekarang. Mungkin saja saat ini sudah sangat susah untuk memusnahkan budaya buruk itu. Dan
itu didukung pula dengan sistem pendidikan di negeri Indonesia tercinta ini yang menjadikan nilai sebagai parameter kelulusan dan kelolosan menuju jenjang yang lebih tinggi. Itu adalah fakta dan tidak perlu untuk diperdebatkan lagi.
Para orang tua dan guru juga sering berkata, “Belajarlah dengan giat, agar nilaimu bagus, agar dirimu mudah di masa depan.” Kata-kata itu seakan-akan memberikan persetujuan bahwa nilai adalah segala-galanya, meskipun mereka selalu bilang bahwa nilai bukanlah segala-galanya. Jika mereka beranggapan nilai bukanlah segala-galanya, seharusnya mereka berkata, “Belajarlah dengan giat, agar kau menjadi manusia yang bermanfaat, dan kelak bisa mendidik generasi selanjutnya dengan maksimal.”
Apa mau dikata, semua itu telah terlanjur. Dan harus ada pergerakan dari atas. Jika tidak, akan seperti ini terus ke depannya. Ah pusing rasanya. Lupakanlah, aku harus menyelesaikan tugas-tugas ini, agar mendapat nilai yang bagus.


Komentar
Posting Komentar