Berharap Tanpa Kepastian. Bagian 2 : Terus Bersemangat


     Hufft. Aku menghela nafas karena merasa cukup lelah dan suntuk mengerjakan tugas-tugas ini. Namun apalah mau dikata, aku tetap harus segera menyelesaikan tugas-tugas ini. Aku harus terus bersemangat. Waktu tidak akan berhenti. Jam akan terus berdetak. Kini jarum pendek telah berada diantara angka satu dan angka dua. Ini sudah pukul setengah dua. “Alamak, luh cepat sekali waktu ini berputar.” Gumamku sambil memegang bolpoin.

     Cuaca pun mulai menunjukkan ketidakberpihakannya terhadap keinginanku. Awalnya aku berharap semoga ketika aku pulang nanti cuaca akan terus cerah. Namun apalah daya, realita tidak sesuai dengan ekspektasi. Cuaca tampak mendung. Perlahan namun pasti awan-awan mulai berkumpul menggumpal. Sinar matahari mulai tak tampak. Suasana sedikit temaram. Aku pun mulai menyalakan lampu kelas, agar aku bisa terus mengerjakan tugas-tugas ini.

     Suasana mulai sedikit mencekam. Semua itu tidak terlepas karena aku hanya seorang diri di kelas ini. Angin mulai berhembus dengan sangat kencangnya. Rasa-rasanya hujan akan segera turun.

     Waduh, bagaimana dengan jemuranku di rumah. Sebelum berangkat sekolah tadi, aku menjemur banyak sekali pakaian. Aku takut, bagaimana jika terjadi hujan di rumah dan tidak ada yang mengangkat jemuran-jemuranku itu. “Ah, kan ada Diki di rumah, dia akan tahu kalau ada jemuran yang mesti untuk ia angkat.”

     Diki adalah adikku. Dia adalah saudara kandungku satu-satunya. Usianya sekitar sembilan tahun. Ia lahir tepat ketika orang-orang merayakan Hari Pramuka. Ya, dia lahir pada tanggal 14 Agustus. Selisih antara aku dan dia adalah delapan tahun. Entah mengapa orang tuaku memberikanku adik ketika usiaku sudah segitu. Mungkin ini sudah menjadi takdirku.

     Aku harus tetap fokus mengerjakan tugas-tugas ini. Jangan sampai aku terus terbuai dengan suasana-suasana seperti ini. Memang, rasa malas mulai merasuki. Entah mengapa hawa dan suasana seperti ini membuat siapapun—bukan hanya aku—menjadi mengantuk. Membuat diri ini rasa-rasanya ingin berbaring dan tidur. Aku yakin jika tertidur, akan menjadi tidur yang cukup nyenyak. Akan tetapi, aku harus tetap fokus dan bersemangat. Dengan satu tujuan yaitu tugas ini harus segera terselesaikan dan sesegera mungkin untuk dikumpulkan.

     Aku mengambil hp yang tersimpan rapat di saku kanan celanaku. Aku sengaja tidak menaruhnya di meja agar benda itu tidak mengganggu konsentrasiku. Sulit bagiku untuk mengabaikan setiap kali ada notifikasi yang masuk di hpku. Kali ini memang hp itu perlu untuk aku keluarkan. Kondisi yang genting di saat-saat yang rumit.

     Aku pun membuka aplikasi yang bernama Spotify. Nama yang asing. Tentu saja, karena itu adalah aplikasi bikinan luar negeri. Ada banyak macam lagu dan berbagai genre di dalam aplikasi itu. Aku mulai mencari lagu-lagu yang menggugah semangat dan mampu memecah keheningan serta rasa mencekam. Semua itu dilakukan agar suasana menjadi cair kembali. Agar aku bisa memulai mengerjakan tugas-tugasku kembali.

     “Ah lagu ini sajalah yang aku putar, aku rasa pas.” Gumamku. Aku pun memilih lagu yang bernada sendu. Lagu bernada sendu itu adalah musikalisasi puisi. Tentu saja kalau tentang musikalisasi puisi yang paling top adalah yang dibawakan oleh Ari Reda. Oh, mereka adalah juaranya dalam melakukan musikalisasi terhadap puisi. Apalagi puisi-puisi karya Pak Sapardi. Tak perlu diragukan lagi memang. Ketika suara mereka berpadu, apalagi menyanyikan puisi karya Pak Sapardi, hati dan jiwa seakan-akan terasa damai. Seakan-akan pikiran ini terbawa entah ke mana menuju negeri antah berantah. Seakan-akan pikiran kita terbuai dan terngiang akan masa lalu.

     Sengaja aku memilih musikalisasi puisi yang dibawakan oleh Ari Reda. Entah mengapa lagu-lagu musikalisasi yang dibawakan oleh Ari Reda terasa sangat pas dengan suasana seperti ini. Aku pun memilih lagu yang berjudul Hujan Bulan Juni. Meskipun sekarang bukan lagi bulan Juni, namun nada-nada dan iramanya membuatku mengingat seseorang. Seorang gadis yang telah lama singgah di hati. Sehingga ketika aku mendengar lagu ini, motivasiku mulai tumbuh kembali. Inspirasi bisa tiba-tiba muncul. Gadis itu adalah penyemangat hari-hariku.

     Benar saja, aku kembali bergairah. Tiba-tiba semangatku muncul dan menguat. Oh. Ketika Ari Malibu memainkan gitar dan memainkan instrumen awal dari lagu Hujan Bulan Juni itu saja sudah membuatku terperanjat. Apalagi ketika Reda Guadiamo mulai mengeluarkan suara-suara indahnya. Ah, tidak ada yang mampu untuk menandinginya.

     Aku ambil kembali bolpoin bermerek Faster yang tergeletak di atas buku itu. Di atas buku tulis sejarah. Dengan genggamanku, bolpoin itu kembali menari-nari. Menciptakan dan melukis aksara-aksara yang penuh dengan makna. Semua ini berkat dentuman alunan nada dan irama yang dibawakan oleh Ari Reda. Pengerjaan kembali berlanjut.


Komentar

Postingan Populer