Berharap Tanpa Kepastian. Bagian 3 : Satu per Satu


      Akhirnya tugas Sejarah ini dapat aku selesaikan dengan baik. Meskipun ada banyak. Namun itu tidak menjadi masalah. Perlahan namun pasti. Tugas sejarah ini tinggal aku kumpulkan saja. Kemudian aku foto tugas sejarah ini. Hanya dua lembar. Jadi ada dua foto yang aku ambil. Setelah itu aku jadikan dua foto itu dalam format PDF. Setelah itu aku kirim tugas itu melalui aplikasi yang bernama Google kelas.

        Kini telah tersisa satu tugas yaitu tugas PPKN. “Hufft tinggal satu. Yuk bisa yuk semangits.” Kataku sembari memberikan semangat terhadap diri sendiri. Kini waktu telah menuju ke angka dua. Namun kurang seperempat menit.

        Aku harus menyelesaikannya segera. Paling tidak pukul setengah tiga tugas ini sudah aku kumpulkan. Karena langit sudah menujukkan tanda-tanda akan turun hujan. Suara gemuruh petir mulai bersahut-sahutan. Aku tidak ingat, apakah aku tadi membawa jas hujan atau tidak. Apakah jas hujan itu ada di dalam jok sepeda motorku. Kalau sampai tidak aku bawa, dan hujan pun mulai turun menghujam bumi, alamat sudah. Aku harus tetap berada di dalam kelas, selagi hujannya tidak deras.

”Kalau gerimis saja ya tidak masalah.” Kataku dalam hati.

        Kalau hujannya sangat lebat dan deras, alamat sudah. Mau tidak mau aku harus tetap berada di dalam kelas. Menunggu hujannya mereda. Menunggu. Ya tentu saja menunggu.

        Sebenarnya tidak masalah jika aku menerabas dan melawan rintik-rintik air yang turun menghujam bumi--sederhananya adalah hujan-hujan. Toh juga hujan-hujan adalah salah satu kegiatan yang aku suka. Akan tetapi, bagaimana dengan seragam sekolah yang aku kenakan ini. Ini hari Senin. Masih ada besok hari Selasa. Seragam ini masih harus aku kenakan besok. Aku takut jika memaksakan untuk hujan-hujan, seragam ini tidak akan kering dalam waktu semalaman. Jika tidak kering, apa yang akan aku kenakan besok. Apakah aku juga harus memaksakan diri untuk pergi ke sekolah dengan kondisi seragam yang setengah kering dan setengah basah. Jelas tidak enak untuk dikenakan.

        Ah, lupakan saja perihal dunia perseragaman. Toh ini kan masih prediksi. Siapa tahu hujan tidak akan turun. Siapa tahu mendungnya hanya lewat saja. Kita tidak tahu bagaimana masa depan. Yang penting kita harus tetap optimis dan berdoa kepada Tuhan semoga tidak hujan.

        ”Aku mohon kepada Engkau Tuhan. Ketika hamba-Mu ini pulang, biarkan hujan tidak turun membasahi. Biarkan mendung itu lewat saja. Pergi sesuai keinginannya.” Doa yang aku panjat dalam hati kepada Tuhan.

        Yang terpenting tugas ini harus terselesaikan segera. Lagu masih tetap menyala. Meskipun terkadang suara-suara gemuruh petir terdengar sahut-sahutan dan sedikit membuat kaget. Masih dengan lagu yang sama. Hujan Bulan Juni. Memang sengaja aku ulang-ulang lagu ini. Agar gairahku tetap terjaga. Dan tentu saja agar terus bersemangat dalam mengerjakan.

        Aku pun memulai mengerjakan tugas terakhir ini. Tugas PPKN. Kutapaki satu per satu. Ku baca soalnya secara perlahan. Agar mudah aku pahami. Hanya ada satu pertanyaan. Meskipun hanya satu pertanyaan, jawabannya akan sangat banyak. Akan cukup banyak memakan tempat. Pertanyaannya adalah, bagaimana pandanganmu mengenai lengsernya Gus Dur dari kursi kepresidenan? Wow. Seperti itulah pertanyaannya.

        Meskipun pertanyaan itu berbau sejarah, namun itu masih berhubungan dengan masalah atau polemik ketatanegaraan. Toh juga PPKN dan sejarah itu saling berkaitan. Saling berkesinambungan.

        Dalam menemukan jawaban yang pas, aku berpikir lumayan cukup keras. Dan tentu saja cukup lama. Sekitar 5 menit. Ya sekitar 5 menit. Setelah 5 menit yang aku habiskan untuk berpikir, akhirnya aku menemukan jawaban yang pas. Aku ambil bolpoin yang telah aku geletakkan pada waktu memotret tugas sebelumnnya. Dan jari-jariku mulai menari-nari bersama dengan bolpoin, menuliskan jawaban dari pernyataan ini.

Komentar

Postingan Populer