BERHARAP TANPA KEPASTIAN. BAGIAN 4 : BUAH DARI PERJUANGAN


      Hah. Akhirnya. Setelah bertahan dan berusaha, akhirnya tugas yang terakhir ini bisa terselesaikan. Bisa teratasi. Cukup menguras pikiran. Dengan penuh dedikasi dan semangat juang yang tinggi, hanya butuh sekitar 15 menit bagiku untuk menyelesaikan tugas ini.

     Aku pun menyiapkan kamera hpku. Buku telah aku letakkan rapi di atas meja. Aku bersihkan sesuatu yang mengganggu di atas buku itu. Bersiap untuk memotret. Cekrik. “Ah, buram.”

      Aku potret sekali lagi. Cekrik. Hasilnya cukup lumayan. Hanya sekali potret. Karena jawaban atas pertanyaan itu ternyata hanya memakan satu halaman. Tidak lebih. Dugaanku ternyata salah.

      Setelah itu, seperti urutan di tugas yang awal. Aku jadikan PDF, kemudian aku kirim ke Google kelas. Akhirnya selesai. Aku bereskan seluruh peralatan yang berserakan di atas meja. Kemudian aku masukkan ke dalam tas ransel. Yang tersisa di atas meja ini hanyalah topi dan hp.

      Waktu kini menunjukkan pukul dua lebih tiga puluh lima. Atau istilah lainnya pukul tiga kurang dua puluh lima menit. Sebentar lagi Asar. Namun mendung semakin menebal. Suasana juga tampak semakin mencekam. Meskipun petir sudah tidak menampakkan suaranya, namun suara hembusan angin masih terdengar dengan keras. Hsusjdjaghzsusua. Sampai-sampai empat kipas yang menyala di dalam kelas pun tidak ada apa-apanya. Malah tidak terdengar lagi. Menyatu dengan suara hembusan angin itu.

      Aku harus segera pulang. Sebelum hujan benar-benar turun membasahi bumi. Aku cangklot tas ranselku. Hp sudah aku masukkan ke dalam tas. Biar lebih aman. Topi aku kenakan dan terpasang pas di kepalaku. Kemudian aku matikan keempat kipas angin yang ada di dalam kelas. Kata guruku biar hemat energi. Ah, aku jadi teringat beliau, guru SMP—sebelah SMA ini. Setelah itu, lampu kelas aku matikan juga. Kemudian keluar kelas dan menutup pintu kelas.

      Aku berkaca terlebih dahulu di sebuah kaca kecil yang menempel di dinding fondasi kelas ini. “oke, sudah keren dan ganteng.” Kataku.

      Aku pun berjalan di koridor menuju anak tangga untuk turun. Itu karena kelasku berada di lantai dua. Ada empat kelas di lantai dua ini. Jarak antara kelasku dengan anak tangga itu sekitar 20 meter. Jauh. Ya memang. Kelasku berada di ujung. Berada paling belakang sekolah. Kelas paling buncit. Dan terkadang ini menjadi keluhan bagi para dewan guru sepuh yang mengajar kelasku.

      “Aduh, saya tadi ngajar di kelas ujung depan sana, makanya agak ngos-ngosan untuk menuju ke kelas ini.” Begitulah kira-kira acap kali guru-guru sepuh katakan ketika sesampainya di kelasku.

      Ketika aku berjalan, angin mampu menerbangkan dasi yang terpasang di leherku. Wah, cukup kencang memang. Tak hanya itu, ternyata mendung lebih gelap dan petang melebihi dugaanku. Langkahku aku percepat. Bek, bek, bek.

      Aku menuruni anak tangga. Jumlahnya sekitar, ah aku tak memerhatikan sampai sedetail itu. Satu persatu aku turuni setiap anak tangga dengan tergesa-gesa. Sesampainya di lantai yang paling dasar, aku harus berjalan lagi sejauh 50 meter untuk menuju ke parkiran. Tempat sepeda motorku berdiam.

      Berjalan menuju parkiran, aku harus melewati taman dengan pohon palem yang tumbuh tertata dengan rapi dan berjarak penuh presisi. Yang kalau aku berjalan melewati pohon-pohon itu,seakan-akan aku seperti Bae Yong-Joon yang berjalan diantara pohon-pohon di Pulau Nami dalam serial Drama Korea Winter Sonata. Meskipun tidak sama, namun vibesnya begitu terasa.

      Walaupun gini-gini, aku sedikit tahu tentang drama-drama asal Negeri Ginseng itu. Apalagi drama yang berjudul The Heirs. Beh, saat itulah aku teruwu dengan peran Kim Tan dan Che Eun Sang yang diperankan oleh Lee Min-ho dan Park Shin-hye. Aku melihatnya sekitar tahun 2014 di stasiun televisi swasta tertua di Indonesia. Yaps RCTI. Usiaku saat itu sekitar 10 tahun. Wah, apa yang ditonton tidak sesuai dengan usianya. Seharusnya anak usia 10 tahun tidak melihat serial drama semacam itu. Serial drama itu untuk usia 18 tahun ke atas. Wah-wah. Namun tak apalah, sudah terlanjur. Mau bagaimana lagi.

      Musiknya pun aku juga sedikit tahu. Mulai dari BTS, Blackpink, AOA, IKON, dan Super Junior. Meskipun tahu, aku tidak terlalu fanatik, bahkan cenderung biasa saja. Tidak seperti teman-teman perempuanku. Mereka begitu fanatik. Apalagi dengan Army—sebutan untuk fan dari grub boyband BTS. Bahkan kalau aku menyebutkan, seakan-akan mereka tidak bisa hidup kalau tidak ada BTS. Memang, namun di sisi lain bagiku lagu-lagunya asyik apabila didengarkan. Dan terkadang vibesnya membuat kita bersemangat. Toh juga ada dancenya yang menjadi ciri khas grup musik Korea. Dan para anggota grup-grup musik Korea kesemuanya juga terlihat tampan dan cantik serta bergaya. Ya memang. Selain tuntutan, itu juga tidak lepas dari Korea sebagai salah satu kiblat fashion dunia. Itulah mungkin beberapa alasan mereka-mereka para pencinta K-Pop—sebutan untuk musik Korea—menyukai dan menggandrungi musik-musik K-Pop asal Korea.

      Tak seperti biasanya. Sepi. Taman ini tampak sangat sepi. Biasanya banyak sepeda motor yang terparkir rapi di taman ini. Meskipun memang ada tempat parkir. Namun karena saking banyaknya sepeda motor dari para siswa, parkiran itu tak sanggup lagi untuk menjadi tempat berdiam banyaknya sepeda motor. Sehingga, taman inilah yang kemudian menjadi tempat alternatif bagi para siswa untuk menyimpan sepeda motor.

Komentar

Postingan Populer