Berharap Tanpa Kepastian. Bagian 5 : Hidup Itu Pilihan
Akhirnya sampai juga di parkiran. Akhirnya sampai juga di sepeda motorku. Terlihat beberapa sepeda motor yang masih terparkir. Entah sepeda motor siapa yang ada di sana. Yang penting aku sudah sampai di sepeda motorku.
Suasana parkiran tampak sangat gelap. Itu karena adanya payon. Sehingga cahaya masuk menuju parkiran itu sangat minim. Namun jika terjadi hujan ataupun saat cuaca sedang panas-panasnya, sepeda motor akan sangat terlindungi.
Aku masukkan kunci motor ini ke tempat seharusnya kunci ini masuk untuk menyalakan sepeda motor ini. Sebelum itu aku mengecek jokku, apakah ada jas hujan atau tidak. Semoga saja ada.
“Ah ternyata tidak ada, benar, aku lupa memasukkannya, aduh.” Apa yang harus aku lakukan. Aku bingung. Apakah aku harus pulang. Memaksakan pulang meskipun dalam kondisi gerimis seperti ini. Ini sudah Asar. Aku harus segera pulang. Namun, aku terjebak dalam suatu pilihan. Antara memaksakan untuk pulang meskipun gerimis, ataukah terus menunggu sampai gerimis ini mereda.
Setelah beberapa waktu aku berpikir. Aku putuskan untuk pulang saja. Aku harus memilih. Jika aku menunggu, rasa-rasanya gerimis ini tidak akan mereda. Sampai kapan aku harus menunggu jika gerimis ini tidak kunjung mereda. Akan sia-sia saja menunggu. Buang-buang waktu saja. Aku lebih baik pulang saja. Toh juga meskipun basah, basahnya gak basah-basah amat. Karena ini gerimis. Besok pasti bisa kering.
Segera aku menaiki sepeda motorku. Sepeda motor yang dibelikan oleh kakek dan nenekku. Pada waktu itu, ketika aku lulus SMP dan bersiap menuju masa SMA. Mereka membelikannya tanpa ada persetujuan dariku. Mereka ingin memberikanku kejutan. Dan aku senang. Meskipun sepeda motor itu bekas. Ya. Bekas. Tapi tidak masalah. Yang terpenting sepeda motor itu dalam kondisi baik dan bisa jalan.
Sepeda motor Supra Helm-in dari Honda keluaran tahun 2013. Itulah sepeda motorku. Sepeda motor Supra Helm-in yang kalau menurutku adalah tipe sepeda motor Supra paling besar dan tinggi dibandingkan dengan tipe-tipe sepeda motor Supra yang lainnya.
Lihatlah sepeda motor ini. Terlihat sangat prokoh. Dan apabila di gas tarikannya begitu halus. Yang menjadi ciri khas dari sepeda motorku ini adalah terletak pada vleg rodanya. Berwarna putih. Dan kata kakekku waktu membeli sepeda motor ini, sang pemilik sebelumnya berkata, “Biar enak kalau mencarinya.”
Semoga saja gerimis ini tidak semakin berkembang menjadi hujan. Semoga saja masih tetap seperti ini sampai rumah. Semoga saja.
Aku stater sepeda motorku. Breng. Breng. Aku kenakan helmku yang juga dari Supra. Aku masukkan ke gigi satu. Aku berdoa, semoga selamat sampai rumah. Bismillah. Aku tarik gas sepeda motorku secara perlahan. Dan akupun melesat. Menerabas rintik-rintik air.


Komentar
Posting Komentar