Panggil Saja Aku Kartini
Sepintas kita akan terngiang sesosok Kartini tatkala membaca judul buku ini. Buku yang ditulis oleh seorang yang sangat terkenal dan berdedikasi, Pramoedya Ananta Toer. Buku yang menceritakan perjalanan hidup seorang Tokoh Emansipasi Wanita Indonesia, Kartini.
Kartini tidak hanya sebagai seorang pejuang feminis. Lebih dari itu. Ia adalah seorang intelektual, pemikir, jurnalis, sastrawan, dan kalau kata Pram, ia adalah seorang seniman. Dimana dedikasinya begitu besar kepada rakyatnya, meskipun dengan berbagai keterbatasan, meskipun hanya dengan ruang yang sempit, bukan menjadi penghalang baginya untuk mencurahkan segala rasa dan karsa menjadi karya kepada rakyatnya.
Ia berkelana melintasi zaman dengan bacaan-bacaannya. Ia menjadi seorang modernis di tengah lingkup masa akhir dari feodalisme pertengahan. Feodalisme yang memaksanya untuk tumbuh di sebuah bilik yang amat kecil dan dikurung di sana sampai ia dilamar oleh seorang pria. Keharusan bagi seorang ningrat untuk melaksanakan adat feodalisme itu. Yang kalau kata Soekarno adalah feodalisme pesakitan.
Meski ia harus merasakan pil pahit adat feodalisme ini, masih beruntung ia berada di tengah-tengah keluarga ningrat yang berkemajuan. Tak seperti keluarga ningrat yang lainnya. Ayahnya, Raden Ario Sosroningrat, adalah seorang yang berkemajuan. Ia menjadi salah satu dari 4 adipati yang bisa berbahasa Belanda—bahasa kemajuan kalau kata Kartini. Banyak buku-buku yang ia baca. Walau begitu ia masih terkungkung akan adat istiadat nenek moyangnya itu.
Itulah mengapa Kartini menjadi seorang yang berwawasan luas, kritis, dan modernis. Banyak literatur-literatur dan bacaan-bacaan yang tersedia untuknya, yang menemaninya di saat-saat pelik di dalam hidupnya. Berkat bacaan-bacaannya dan penderitaan yang ia alami itulah, ia menjadi sesosok yang tangguh untuk mencoba meruntuhkan tembok besar yang bernama feodalisme.
Baginya semua orang itu sama. Oleh sebeb itu, ia tidak ingin dipanggil sebagai Raden Ayu. Ia lebih memilih dipanggil Kartini saja. Lihat, tampak begitu demokratisnya sosok Kartini ini. Semua orang setara di hadapannya. Tidak ada lagi bangsawan. Tidak ada lagi rakyat jelata. Ia telah melepas jiwa feodalismenya. Ia ingin bebas.
Terlepas dari kisah Kartini yang diusung Pram. Pram mengutip judul buku ini dari surat Kartini yang dikirim kepada Estella Zeehandelaar, yang merupakan sahabat pena Kartini, pada tanggal 25 Mei 1899.
Surat ini berasal dari dalam buku yang berjudul Habis Gelap Terbitnya Telang, yang dalam bahasa Belandanya Door Duisternis tot Licht. Buku ini berisi surat-surat Kartini yang kesemuanya berjumlah 105 surat. Entah berapa surat lagi yang tidak diketahui.
Buku ini—Panggil Aku Kartini Saja—terasa begitu mengasyikkan sekali untuk dibaca. Menumbuhkan kesadaran, bahwasanya bagaimana beratnya perjuangan di zaman dulu. Terutama sesosok Kartini ini yang berjuang tidak hanya melawan para kolonialisme, tetapi juga terhadap sistem feodalismenya. Menyingkirkan sebuah stigma bahwa wanita hanyalah seorang pembantu yang hanya mengurusi masalah atau pekerjaan rumah tangga saja. Lebih dari itu. Sesungguhnya wanita juga berhak menjadi tokoh utama dalam sebuah revolusi. Menjadi sosok penting dalam pergerakan emkemajuan bangsa. Semua setara. Baik itu laki-laki ataupun perempuan.
Tidak habis pikir bagaimana Pram menuliskan buku ini. Buku biografi ini tidak hanya menceritakan kehidupan Kartini. Akan tetapi, bagaimana ia memberikan perspektifnya, pemikirannya, dan penilaiannya terhadap apa yang terjadi di setiap hal yang ada di dalam kisah Kartini ini.
Pram menghadirkan dan menggambarkan sosok Kartini yang tangguh, kuat, dan terus berjuang. Entah mengapa, seperti yang ada di dalam epilog pada buku ini, Pram begitu simpatik dan ingin menunjukkan kekuatan tokoh feminis dalam setiap karya-karyanya. Sebut saja Nyai Ontosoroh dalam Tetralogi Bumi Manusia, ataupun juga dalam novel Gadis Pantai. Seakan-akan ia begitu menunjukkan ‘seperti inilah wanita Indonesia’ yang begitu tangguh dan pantang menyerah.
Yang terpenting adalah, semoga jiwa-jiwa tokoh, seperti Kartini, Nyai Ontosoroh, ataupun Gadis Pantai dapat diteladani bagi kita semuamya. Tidak hanya kebaya yang dikenakannya saja yang kita warisi. Akan tetapi semangatnya, spiritnya, integritasnya, dan dedikasinya jugalah yang harus kita warisi. Sekian. Terima kasih. Salam literasi. Salam bestari.


Komentar
Posting Komentar