Berharap Tanpa Kepastian. Bagian 6 : Pertemuan yang Tak Terduga

 


   Tiba-tiba hujan turun dengan begitu deras. Sesaat sebelum aku keluar dari gapura pintu gerbang sekolah. Sial. Nasib tidak berpihak kepadaku. Hujan turun terlebih dahulu sebelum aku sampai di rumah. Belum pula 200 meter berjalan. Eh, hujan tiba-tiba mengguyur dengan derasnya. Sial. Sial.

            Dengan tergesa-gesa aku mengambil inisiatif untuk berteduh. Aku teringat ada sebuah halte di depan sekolah. Aku pun bergerak menuju halte itu. Meskipun ada masjid di sekolah yang jika dijadikan tempat untuk berteduh, rasanya akan sangat enak dan nyaman karena tempatnya yang cukup luas. Namun apa boleh buat. Tidak ada waktu lagi untuk putar balik. Akan memakan waktu. Keburu seragam basah. Lebih baik aku berteduh saja di halte depan sekolah. Aku melesat cepat agar bisa lekas sampai.

            Sesampainya di halte, aku sesegera mungkin pergi untuk berteduh. Ternyata di sana tidak hanya aku saja. Ada seorang siswa yang sedang berteduh. Juga ada seorang pedagang pentol namun dia tidak berteduh, memang halte itu adalah tempat yang biasa ia jadikan sebagai pangkalannya.

            Aku kemudian duduk di halte itu. Di samping seorang siswi yang wajahnya tidak seberapa jelas. Karena aku masih mengenakan helm. Dengan kaca yang tidak lagi jernih, ditambah ada rintik-rintik air yang menempel di kaca, membuat pandanganku tidak seberapa jelas. Aku kemudian membuka helmku.

            Tak disangka. Aku cukup terkejut. Tiba-tiba jantungku berdegup cukup cepat. Duk duk duk. Ternyata siswi yang duduk di sebelahku adalah Wati.

“Lo Wat, ternyata kamu.” Sambutku.

“Lo Zul, kamu toh ini.” Sambutnya.

            Ia duduk dengan begitu manis. Masih mengenekan seragam putih abu-abu. Dengan hijab yang masih terpasang rapi namun terlihat agak basah karena terkena cipratan air hujan. Ia duduk dengan tas yang tersandar di tiang penyangga halte.

Kita sama-sama tidak menyangka bisa bertemu lagi dalam kondisi seperti ini. Dalam kondisi hujan—yang kalau kata orang-orang hujan adalah penambah kesyahduan. Sebenarnya kita sudah bertemu dan bertegur sapa di kelas waktu pagi tadi. Ya itu karena kita satu kelas.  Sudah hampir enam tahun kita selalu satu kelas. Dan itu tidak membuatku bosan selalu memandang raut wajahnya yang begitu memesona itu.

            Aku pun bingung harus membuka percakapan dari mana. Suasana biar tetap hangat. Biar tetap cair. Aku begitu kaku. Seperti itulah kira-kira jika seorang laki-laki bila bertemu dengan gadis yang dia suka. Mulut seakan-akan sulit untuk berbicara. Sulit menemukan topik.

Mau tidak mau, aku harus berusaha menemukan topik. Dan aku pun mulai memberanikan diri. Dan aku memulainya dengan sebuah pertanyaan.

“Kamu sedang apa sampai jam segini, kok belum pulang Wat?”

”Ehm, aku tadi ada rapat kepengurusan, jadi aku pulang agak telat. Kalau kamu sendiri sedang apa Zul, kok baru pulang juga?”

“Oh, anu, eh, tadi aku harus nyelesaikan tugas yang tadi pagi ditagih sama Bu Syadah dan juga Bu Tia. Kan kamu juga tahu sendiri Wat.”

“Oh iya ya. Kamu sampai segitunya nyelesainnya sekarang.”

“Iya iya no, tugas aja kaya gini apa lagi tentang.” Ups, hampir saja aku keceplosan.

“Tentang apa?”

“Ah nggak jadi deh.”

            Hampir saja aku keceplosan. Entah apa yang akan terjadi apabila kata ‘kamu’ terucap. Dan untung saja dia tidak menyudutkanku dengan pertanyaan. Sebenarnya ingin sekali diri ini untuk menyatakan kembali tentang perasaan bahwa aku menyukainya. Walaupun sebenarnya dia juga sudah tahu tentang perasaanku ini. Itu karena aku sudah pernah menyatakan perasaan ini. Namun itu melalui hp. Telponan. Aku ingin menegaskan kembali bahwa aku menyukainya. Secara langsung. Ya. Secara langsung. Dengan empat mata. Mumpung momennya pas. Lagi hujan begini.

            Hah. Pertama kalinya aku menyatakan perasaan kepada seorang wanita ya kepadanya. Kepada si Wati ini. Itu merupakan pengalaman yang sangat berharga. Waktu itu kita telponan cukup lama. Kira-kira sekitar tiga jam. Dan itu malam hari. Mulai dari pukul sembilan sampai pukul dua belas malam. Wow. Itu cukup fantastis.

            Bagaimana dengan responnya? dia tidak menolakku. Orang aku hanya menyatakan perasaan. Dan tidak berbicara perihal keinginanku untuk kita berpacaran. Dia mengucapkan terima kasih karena aku telah menyatakan perasaanku kepadanya. Dia mengapresiasiku. Ah. Sebenarnya dia juga tidak menyangka kalau aku menyukainya. Itu mungkin karena dia sudah mengenal seperti apa diriku—menurutku saja sih.

            Aku tidak tahu seperti apa perasaannya setelah aku sampaikan perasaanku itu kepadanya. Yang aku tangkap menurut instingku sebagai seorang lelaki adalah bahwa ia menganggapku bergurau. Menganggapku tidak serius. Itu mungkin dilandasi bagaimana karakterku sendiri. Yang dikenal pecicilan, guyonan, dan plinplan. Namun itu juga tidak sepenuhnya salah bahwa ia menganggaku tidak serius. Aku membenarkan asumsiku itu. Memang setelah aku nyatakan perasaan itu, aku sama sekali tidak melakukan pergerakan. Aku terkesan biasa saja. Seperti tidak ada apa-apa. Aku berkomunikasi dengannya ya seperti biasa. Seperti saat sebelum aku menyatakan perasaan itu kepadanya. Namun memang agak sedikit canggung. Ah mungkin itu hanyalah pikiranku saja, yang berpikiran kemana-mana.

            Nah. Untuk itu di momen yang pas ini, aku ingin menyatakan kembali perasaanku ini kepadanya. Bukan apa-apa, aku hanya ingin dia tahu yang sebenar-benarnya bahwa aku memang mencintainya. Dan itu tidak main-main.

            Sebenarnya aku tidak ingin berpacaran. Aku ingin lebih focus ke jenjang yang lebih tinggi. Yaitu masuk ke universitas. Begitupun juga dengannya. Yang aku takutkan adalah mengganggu konsentrasinya. Namun, aku juga ingin memberi kepastian terhadap hatiku, aku ingin membuat hatiku tentang. Tidak ada lagi yang mengganjal hatiku.

            Yang aku inginkan sebenarnya sangat sederhana. Aku ingin memiliki seorang partner. Seorang teman dekat. Sebagai tempat berkeluh kesah. Tempat mencurahkan kebahagian. Saling mendukung. Saling menasehati. Saling menghibur. Ketika dia ada masalah, dia bisa menceritakan masalahnya kepadaku. Begitupun sebaliknya. Apakah itu salah?

            Aku ingin mencintai dengan sederhana. Meskipun mencintai dengan cara sederhana adalah cara mencintai yang paling tidak sederhana. Susah untuk mencintai dengan apa adanya. Begitulah kira-kira interpretasi yang aku dengar dari seorang penyair Jogja.

Ah aku tidak tahu, bagaimana dengan persaanku selanjutnya. Aku juga tidak tahu bagaimana perasaannya kepadaku. Namun kali ini adalah momen yang pas untuk menyatakan perasaan. Aku harus berusaha. Aku harus berani. Memang tidak mudah menyatakan perasaan cinta secara langsung begini. Namun apa boleh buat, aku harus melakukannya. Ya. Aku tegaskan lagi. Aku harus melakukannya.

“Lalu apa yang sedang kamu lakukan di sini, di halte ini Wat?”tanyaku.

“Aku sedang menunggu jemputan, sudah 1 jam aku tidak jua dijemput-jemput. Apalagi kondisi hujan seperti ini, jelas akan semakin lama untuk dijemput.” Jawabnya

“Tenang Wat, ada aku disini. Aku juga terpaksa berteduh karena aku lupa bawa mantel. Aku takut tidak kering seragam ini.” Sahutku.

            Waktu sudah menunjukkan pukul tiga tepat. Aku melihat jam di hp setelah aku keluarkan dari tasku. “Ah sudah semakin sore.” Gumamku.

“Eh Wat, apa kamu sudah makan? Apakah kamu lapar?” Tanyaku.

“Iya sih sebenernya, aku belum makin sedari siang tadi.” Jawabnya.

“Kamu mau pentol?” Tawarku.

“Ah ndak ah Zul, uang sakuku sudah habis.” Jawabnya.

            Dengan penuh inisiatif, karena aku juga sedang lapar, aku pun berjalan menuju pedagang pentol. Hanya berjarak 2 meter. Tidak membutuhkan tenaga lebih. Aku membeli pentol.

“Pak, beli pentol 5 ribuan dua.” Kataku.

“Siap. Campur?” Tanya pedagang pentol sembari membuka dandang pentolnya.

“Campur a Wat?” Tanyaku pada Wati dengan suara yang agak keras.

“Hah, ada apa Zul?” Sahutnya yang terdengar samar.

“Iya Pak, campur.”

“Siomay?”

“Iya Pak.”

“Pedes?”

“Sebentar Pak, pedes a Wat?” Tanyaku sekali lagi.

“Hah? Tidak terdengar jelas Zul.”

Aku tidak menggubris apa yang Wati katakan. Karena suara terdengar pelan. Tidak terdengar dengan jelas.

“Yang satu pedes, yang satu tidak.”

“Baik baik.”

“Ini Pak uangnya.”

“Sebentar, tak masukin dulu ke kresek.”

“Eh, tidak usah Pak.”

“Oh ya, ini Mas pentolnya”

“Iya Pak, amit, ini pak uangnya.” Sembari menerima dua bungkus pentol darinya juga memberikan uang kepadanya. “Pas ya Pak?”

“Iya Mas, terima kasih.”

“Sama-sam Pak.”

            Aku pun berjalan menuju Wati. Aku duduk tepat berada di sampingnya. Kita duduk seiringan. Tidak seperti saat sebelum membeli pentol. Kali ini lebih dekat. Karena ada sesuatu hal yang ingin aku sempaikan kepadanya. Ya. Tentu saja tentang perasaanku kepadanya.

            Aku menyodorkan pentol yang baru saja aku beli. “Nih Wat.”

“Ah apa ini?”

“Sudahlah, aku tahu kamu sedang lapar, kan kamu sendiri tadi yang bilang.”

“Terima kasih ya Zul.”

“Sama-sama Wat.”

            Kami pun menikmati pentol yang baru saja dibeli. Dengan suasana hujan yang terkesan romantic dan syahdu. Dia makan sembari memandang jalan raya. Begitupun juga denganku. Aku juga memandang jalan raya. Namun sesekali aku aku melirik wajahnya yang begitu menawan saat memakan pentol itu. Mimpi apa aku semalam. Aku masih tidak menyangka. Kok bisa aku aku dan aku terjebak di tempat yang sama. Di waktu sama. Di suasana yang sama. Berdua saja. Ya. Berdua saja.

            Aku menikmati sebungkus pentol ini dengan damai. Dengan penuh rasa tenang. Penuh kesejukan. Hujan tetap lebat. Dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan terang.


Salam Bestari. Salam Literasi. Terima kasih.

 


Komentar

Postingan Populer