Berharap Tanpa Kepastian. Bagian 7 : Wati
Nama lengkapnya Dwi Irawati. Kelahiran Pu-Chia-Lung.
Sebutan yang dambil dari Kronik China yang berjudul Ling Wai Tai Ta untuk sebutan
Panjalu di masa lalu. Ia lahir dari pasangan yang bukan asli dari Mojokerto.
Mereka dalah keluarga pindahan. Ia adalah anak kedua—itu sudah sangat jelas
dari namanya. Wati memiliki seorang kakak perempuan yang tidak aku ketahui
namanya.
Awal
pertemuanku dengannya adalah ketika kami dikumpulkan dalam satu kelas di waktu
SMP. Takdir mempertemukan kita di bangku SMP. Entah mengapa, kami juga
dikumpulkan satu kelas kembali di masa SMA ini. Hadeh, lagi-lagi takdir yang
berbicara.
Wati
terkenal pandai sejak duduk di bangku SMP. Aku mengenalnya sebagai sosok yang
pendiam dan sekaligus ambisius. Walaupun sebenarnya dia juga cerewet dalam
beberapa hal. Dia adalah seorang gadis yang lugu. Namun dibalik keluguannya, ia
menympan kecerdasan yang sangat luar biasa. Ia juga aktif berorganisasi dengan
mengikuti Paskibra, OSIS, dan sederet organisasi lainnya. Ah aku jadi iri
dengannya.
Walaupun
aku mengenalnya sudah hampir enam tahun. Namun perasaan itu baru tumbuh ketika
aku duduk di kelas 10 atau kelas 1 SMA. Aku tidak tahu alasan yang pasti
mengapa aku menyukainya. Perasaan itu tiba-tiba muncul. Dan di saat itu,
mengapa yang aku pikir dan yang terbayang hanyalah tentangnya. Hanya tentang
Wati.
Aku
tidak berani pada waktu itu untuk menyampaikan perasaanku ini. Karena aku tidak
punya keberanian untuk menyatakan perasaan ini. Seumur-umur baru kali ini aku
merasakan jatuh cinta yang paling dalam. Sedari SD sampai SMP yang ada di dalam
benakku hanyalah bermain, bermain, dan bermain. Tidak jauh-jauh dari hal itu.
Cinta? Hah apa itu Cinta. Aku tidak mengenal cinta pada masa-masa itu. Aku baru
mengenalnya di masa SMA. Entah mengapa di masa SMA ini aku begitu bergairah
dengan masalah ini. Mungkin ini sudah masanya. Masa-masa remaja. Masa-masa
kasmaran.
Karena
ketakutan itu, aku lebih memilih untuk memendam. Memendam sedalam-dalamnya di
dalam relung kalbuku. Aku kelola sendiri. Aku semai sendiri. Tidak ada seorang
pun yang tahu tentang perasaanku ini.
Sampai suatu ketika aku mulai
menyadari setelah hampir dua tahun memendam. Sampai kapan aku terus-menerus
memendam perasaan ini? Terjadi pertarungan yang cukup dahsyat di dalam diriku.
“Kau ini laki-laki. Kau harus berani. Tunjukkan kelaki-lakianmu. Jangan sampai
kau terbenam dengan perasaanmu sendiri.”
Akhirnya sekitar tiga bulan
yang lalu aku pun mulai memberanikan diri. Memberanikan diri untuk menyampaikan
perasaanku kepadanya. Meskipun hanya melalui telepon. Namun setidaknya, dia
tahu yang sebenarnya bahwa aku menyukainya. Aku tidak peduli dengan hasilnya.
Apakah dia akan membeciku setelah ini atau tidak. Toh juga setelah aku nyatakan
untuk pertama kalinya, hubungan kami baik-baik saja. Seperti biasa. Seperti
tidak ada apa-apa.
.png)

Komentar
Posting Komentar