Berharap Tanpa Kepastian. Bagian 8 : Momen yang Tidak Pas

 


            Pentolku sudah habis. Begitupun dengan pentol miliknya. Dia memang terlihat begitu lapar. Itu bisa dilihat dari bagaimana lahapnya dia dalam memakan pentol miliknya.

            Hujan sudah tidak lagi lebat dan deras. Tidak seperti tadi. Kali ini hujan menandakan akan segera terang. Jam kini sudah menunjukkan pukul tiga lebih dua puluh menit. “Oke, semoga saja setelah ini bisa terang, dan cuss pulang.” Kataku dalam hati.

            Sesuai dengan rencanaku yang awal. Ini adalah momen yang pas. Momen yang pas untuk mengakhiri penantian dalam hati. Momen yang pas untuk mencurahkan seluruh cipta, rasa, dan karsa yang lama terpendam di dalam benak. Kepadanya. Ya. Kepadanya. Dengan jantung yang berdegup sangat kencang. Aku pun beraksi.

“Eh, Wat.”

“Ehm, ada apa Zul?”

“Ehm, begini Wat. Ehm, anu Wat, gimana ya ngomongnya.”

“Kamu mau bicara apa emangnya?”

“Sebentar-sebentar. Hufftt.”

“Oke, kamu tata dulu. Perlahan-lahan. Jangan tergesa-gesa”

“Ehm okok.”

“Aku tahu kok, kamu mau bicara apa denganku.”

            Duar. Meledak. Aku pun tersentak mendengar ucapan itu. Aku bingung harus berkata apa lagi. Aku menimpali ucapannya dengan cara apa lagi. Ah. Entah mengapa tiba-tiba mulutku serasa kaku. Tidak bisa menemukan frasa yang tepat untuk kembali berkata. Ah. Bantu aku Tuhan. Bantu hamba-Mu ini.

            “Aku tahu kok Zul, kamu pasti ingin menyampaikan kembali tentang perasaanmu itu.” Terangnya.

             Dasar. Gadis macam apa dia. Bagaimana mungkin dia bisa mengetahui rencanaku itu. Lagi-lagi aku dibuatnya tidak bisa berkata-kata.

“Kau benar Wat. Aku ingin menyampaikan kembali tentang perasaanku kepadamu.” Timpalku.

“Benar ternyata dugaanku, Zul.”

“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?”

“Ya tahulah, ada resepnya, dan juga ada rumusnya, hahaha.”

            Tidak habis pikir. Dia malah tertawa, di saat aku sedang serius-seriusnya. Tidak habis pikir aku. Tidak habis pikir.

“Oh gitu ya. Ehm, bagus-bagus.”

“Guyon Zul. Janganlah kau ambil hati. Aku Cuma bercanda.”

“Ehm, pancet ae.”

“Aku tahu dari gesturmu, dari tutur katamu, dari ekspresimu, dan dari wuss, semua aku tahu.”

“Lantas, jika kau sudah tahu, apa yang akan kau katakan kepadaku?”

“Yang akan aku katakan adalah, ehm...., Nungguin ya.”

“Gak lucu. Aku lagi serius nih. Ah, kebiasaan deh.”

“Yang ingin aku katakan adalah.....”

Tiba-tiba.

            “Tin. Tin.” Ternyata ada seorang yang entah siapa tiba-tiba berada di depan kami. Datang secara tiba-tiba. Tiba-tiba mengklakson. Seorang itu mengenakan jas hujan dan juga helm. Siapa dia?

“Ehm, sorry ya Zul. Aku duluan. Aku sudah dijemput Ayahku.”

“Baiklah Wat. Hati-hati di jalan.”

“Lain kali saja kita bahas ya.”

“Oce.”

            Ternyata seorang yang berada di atas sepeda motor dan mengenakan jas hujan itu adalah Ayahnya Wati. Oh. Wati pun bergegas menuju sepeda motor itu. Dan langsung bersembunyi di balik jas hujan yang dikenakan Ayahnya—karena jas hujan yang dikenakan Ayahnya merupakan tipe kelelawar. Hujan masih melanda meskipun tidak deras.

“Duluan ya Zul.”

“Iya Wat.”

“Tin.”

“Hati-hati.”


Komentar

Postingan Populer