Berharap Tanpa Kepastian. Bagian 9 : Kegagalan.
Kegagalan. Kegagalan. Kegagalan. Sial. Mengapa
lagi-lagi nasib tidak berpihak kepadaku. Tadi hujan. Sekarang dia yang pergi.
Hampir saja dia berkata. Eh, sudah dijemput duluan. Tidak habis pikir. Hah.
Biarlah. Tak menjadi masalah. Toh masih
ada hari esok. Aku juga masih bertemu dengannya. Di tempat yang sama. Ya. Di
sekolah. Lebih tepatnya lagi di kelas.
Tak masalah. Kali ini aku gagal. Toh
kalau kata pepatah kegagalan adalah awal dari keberhasilan. Biarlah di
saat-saat seperti ini mengeluh meratapi nasib. Itu wajar. Yang terpenting
jangan menyerah.
‘Sambat Boleh, Menyerah Jangan'
Terus berjuang sampai titik darah
penghabisan. Sebelum janur kuning melengkung. Huss. Terlalu jauh berpikiran
sampai ke sana.
Waktu menunjukkan pukul empat. Dan hujan
masih tetap sama. Masih tetap mengguyur meskipun tidak deras. Akan tetapi, jika
dipaksakan untuk menerabas, tetap saja akan basah kuyup. Lebih baik tetap berada
di halte ini. Walaupun sendiri. Hanya berteman pedagang pentol. Itu tak
masalah.
Tidak ada yang mengajak
bicara. Juga tidak ingin berbicara. Aku lebih memilih memandangi jalan raya.
Melihat berbagai macam kendaraan berlalu lalang. Huft. Tiba-tiba aku ingin
makan lagi. Apa boleh buat. Tidak ada pilihan lain. Aku pun berjalan menuju
pedagang pentol itu lagi.
“Pak, pentol 5 ribu lagi, campur.” Pintaku.
“Siap.”
-BERSAMBUNG-
.png)

Komentar
Posting Komentar