PUISI : Hamparan yang Tak Lagi Sama

Hamparan yang Tak Lagi Sama

Memandang hamparan sawah yang ditumbuhi jagung dan padi

Tampak keemasan, pertanda di ujung hayatnya untuk dipanen

Ia tengah mempersiapkan segala hal untuk sebelum dimulainya pekan panen

Tak khayal bagaimana semangatnya, bagaimana gembiranya.


Berselang kemudian, semangat itu tetap terasa hingga musim tanam tiba 

Mencangkul, meratakan, menyemai

Semua dilakukannya dengan penuh dedikasi 

Berharap hasilnya sama seperti yang lalu

Dijual mahal, sebagai modal untuk pergi berhaji


Namun, gejolak pun tiba

Semangatnya pun mulai runtuh

Sawah yang ia datangi setiap hari

Mencangkulnya, membenahi jalan air, dan mencabut rerumputan liar yang mengganggu

Ia rawat, ia jaga selayaknya anak sendiri

Kini mulai berubah

Sawah-sawah yang sebelumnya ditanami padi dan jagung

Kini mulai ditanami oleh rangkai baja dan beton

Pembangunan!

Pembangunan akan digalakkan

Demi pertumbuhan ekonomi dan kemajuan bangsa......Katanya


Hari demi hari ia saksikan sawahnya yang mulai bertumbuh oleh rangkai baja yang tersusun rapi dengan rancangan arsitek ternama

Tak dapat mengelak, tak dapat menolak, tak ada diskusi

Suaranya terbungkam oleh sikap rakus dan tamak sang penguasa

Amarahnya kian ringkih, merelakan diri hanya menerima hasil sebagai kompensasi

Tak berkah untuk naik haji.


2024


Komentar

Postingan Populer