PUISI: Ingar Bingar Reriuh Rintik di Tengah Teriknya Matahari
Ingar Bingar Reriuh Rintik di Tengah Teriknya Matahari
Matahari itu tengah menyengat menembus pigmen kulit yang tak kuasa untuk melindungi
Gemuruh suara petir tiba-tiba menyambar membersamai turunnya hujan
Langit menjelma tempat beranjangsana di tepian gundah
Awanpun malu untuk menghalangi langit untuk menampakkan kegagahannya
Seketika perasaan resah menyemerbak diantara batang pepohonan yang akan menyebar ke seluruh tubuh
Meracuni akar, merontokkan dedaunan bersama dengan runtuhnya air hujan
Akankah tanah dibawahnya akan melahirkan tanaman baru yang lebih indah?
Masih terngiang dengan teriknya matahari
Sebentar lagi sore, sebentar lagi temaram
Masih adakah reriuhan yang membersamai menuju ke sana?
Masih ada waktu untuk mehilangkan racun pada tanaman yang rontok itu.
2024

Komentar
Posting Komentar