SERU: Belajar Untuk Menjadi Lebih Ringan

 Belajar Untuk Menjadi Lebih Ringan

    Sejauh dunia ini berjalan, begitu banyak hal yang terjadi. Menciptakan berbagai inklusi yang lain di dalam pikiran. Seakan membawa sebuah hal yang sering kali membuat dilema bagi sebagian orang ataupun bahkan kebanyakan orang dalam memilah, memutuskan, dan menilai berbagai hal dan peristiwa.

    Tulisan ini mencoba merangkumkan geliat yang aku alami sebagai seorang yang masih berjalan untuk mencari jati diri yang sesungguhnya, meski masih di luar dari kata mapan dan paham. Mencari nilai ataupun makna yang seharusnya kita lakukan sebagai seorang manusia sejati, sebagai seorang manusia yang tinggal dilingkungan yang begitu majemuk dan multikultural. 

    Seyogianya kita sebagai manusia, terutama manusia-manusia muda, untuk memahami dan tahu menganai prinsip-prinsip kehidupan dan dialektika problema yang ada di lingkungan sekitar kita. Banyak sekali hal ikhwal yang terjadi seakan merubah hal fundamental yang menjadi landasan dan falsafah kehidupan bermasyarakat kita. 

    Kita tidak mampu mengendalikan segala hal yang terjadi di dunia ini sesuai dengan apa yang kita pahami dan inginkan. Kita hanya bisa mengikuti arus. Tapi yang harus kita tahu adalah sebagai arus tersebut berjalan dengan cepat, kita harus mampu memiliki kemampuan untuk bisa berinteraksi dan menguasai arus itu dengan baik. Maka akan ada istilah memilah hal yang baik dan buruknya.

    Salah satu kalimat yang cukup mengetuk untuk bisa kita pahami bersama di dalam buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring, berdasarkan dari berbagai arti dan pemaknaan yang sudah dilakukan, bahwa kita tidak bisa mengelak dan menghindari dari segala hal yang telah terjadi di dunia ini, yang hanya bisa lakukan adalah mengendalikan diri terhadap situasi yang telah terjadi tersebut. Dalam arti "mengendalikan" di sini adalah, dalam arti secara universal adalah, kita bisa beradaptasi, mampu berorientasi, dan mampu memaknainya sesuai dengan landasan dan falsafah yang telah diajarkan di dalam diri kita sejak masa kecil kita dan yang telah diajarkan oleh nenek moyang kita. 

    Sebagai kontra diksi, menjauh dan tidak menerima arus yang ada bukanlah sesuatu hal bukanlah suatu solusi yang bijak terhadap situasi yang telah terjadi di dunia ini dan bersikap abai akannya bukanlah hal yang baik. Bagaimana dunia ini terus berputar dengan sedemikian rupa, menuntut kita untuk bergerak secara dinamis dan mampu bermanuver dengan mudah di dalamnya. Sehingga, kita tidak akan tenggelam dan tertinggal akan percepatan global yang terjadi saat ini.

    Belajar menjadi lebih ringan adalah menjadi solusi yang coba untuk ditawarkan sebagai salah satu hal yang perlu untuk dilakukan ditengah caruk maruk kondisi yang ada sekarang. Sebagai salah satu upaya preventif untuk membawa kita ke dalam kondisi mental yang baik untuk kedepan dan seterusnya. Kunci dari menerapkan pemikiran menjadi lebih ringan, berdasarkan yang telah di pahami dari buku karya Francine Jay "Seni Membuat Hidup Jadi Lebih RIngan", adalah pengendalian diri. Pengendalian diri yang dimaksudkan di sini adalah mengendalikan diri dari hal-hal yang negatif dan mencoba belajar untuk belajar mempertimbangkan guna pengambilan keputusuan dan melakukan pemaknaan apa yang terjadi di dunia ini. Membawa hal yang sebenarnya segala hal yang terjadi tidak selalu harus kita pikirkan dan lakukan, serta mencoba tidak mudah menilai dan menyimpulkan terhadap hal yang telah terjadi tersebut.

    Akhir kata, tulisan ini adalah tulisan yang coba ditulis atas dasar keinginan untuk belajar dalam mengutarakan maksud dan tujuan yang telah dipahami. Meski banyak kurangnya, meski banyak hal yang salah dalam penulisannya. Namun, tulisan ini mencoba memberikan pendapat tentang situasi dan kondisi carut marutnya kondisi manusia-manusia muda yang ada dan hidup di Indonesia. Misalnya saja, akan ada istilah over thinking, bullying, dan pergaulan bebas.

    Semoga tulisan ini bermanfaat. kurang lebihnya mohon maaf dan terima kasih. Salam lestari. Salam bestari.

Komentar

Postingan Populer